Rabu, 04 Januari 2017

AKHLAK TASAWUF
KONSEP MAQAM DAN AHWAL
 





KELOMPOK 6:
1.     AINUN MAHDINI AMIRO
2.     ELSA RINAMSI
3.     LATIFAH

SEMESTER III
DIII PERBANKAN SYARIAH

images.jpg
 










FAKULTAS EKONOI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITA ISLAM SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT ,atas segala rahmat,hidayah dan inayahnya yang telah memberikn semuanya yang ada, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Akhlak Tasawuf dengan judul “MAQAMAT DAN AHWAL “.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Akhlak Tasawuf yang diberikan kepada kami  yang sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan penulis yang didapat selama menempuh pendidikan diUIN.
Untuk itu kami selaku penyusun berterima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam menyusun makalah ini terutama pada dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf yang telah memberikan bimbingan sehingga makalah ini dapat kami selesaika tepat waktu
Selaku penyusun kami sangat mengatahui bahwa naskah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mohon kritik dan saran yang membangun agar kami dapat menyusun kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya.Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.
















MAQAMAT dan AHWAL
A. Latar Belakang Masalah
Formulasi konsep-konsep dalam dunia tasawuf mulai nampak sejak abad ke-3 dan ke-4 H. Ini diawali dengan semakin banyaknya orang yang mempraktikkan jalan sufi yang di dalamnya mereka mendapat pengalaman keagamaan (religious experience) yang beraneka ragam. Pengalaman keagamaan itu bahkan ada yang dinilai telah keluar dari ortodoksi Islam oleh para ulama–biasanya terdiri dari kalangan ahli fiqih. Dari sinilah kemudian muncul “perdebatan” bahkan “pertentangan” antara sufisme dan syariah yang dalam sejarahnya Islam selain telah menghabiskan energi para ulama untuk mendamaikannya.
Berkaitan dengan pengalaman keagamaan yang diperoleh kaum sufi dan upaya untuk mendamaikan pertentangan antara sufisme dan syariah itulah kemudian dalam literatur sufi muncul konsep-konsep maqamat dan ahwal. Sebab, dalam konteks seperti itu tasawuf tidak bisa tinggal puas dengan kesalehan asketis dan seruan cintanya terus-menerus. Sekali pandangan umumnya telah memperoleh pengikut dan di antara pengikutnya terdapat kalangan ortodoksi yang terpandang, segera ia mengembangkan metodologi “jalan batin” atau jalan spiritual menuju Tuhan. Namun, lebih dari sekedar mendamaikan antara sufirme dan syariah, kemunculan konsep-konsep dan metode dalam tasawuf juga dipicu oleh tuduhan kalangan ulama atas klaim-klaim kaum sufi. Para ulama berpendapat bahwa kalau klaim-klaim kaum sufi seluruhnya diakui, maka akan timbul kekacauan spiritual karena tidak mungkinnya mengatur, mengontrol, bahkan meramalkan jalannya “kehidupan spiritual” itu. Dzunnun al-Misri (w. 245/859), misalnya, yang pada umumnya dianggap telah berjasa oleh kaum sufi atas usahanya mengklasifikasikan tahap-tahap perkembangan spiritual, benar-benar telah dituduh menyelewengkan ajaran agama di Bagdad pada 240 H./854 M. Selain itu–yang lebih penting lagi–kaum sufi sendiri tampaknya memang merasa perlu untuk mengembangkan suatu metode kontrol dan kritik untuk membakukan dan sejauh mungkin mengobjektifkan pengalaman-pengalaman mereka.
Dengan arah dan motivasi seperti itulah kemudian di kalangan kaum sufi dikenal tahapan-tahapan atau “station-station” (maqamat) jalan sufi. Selain itu, dari kandungan maqamat itu juga diperinci lagi sebuah teori tentang “keadaan-keadaan” (ahwal) yang–meminjam istilah Rahman–bersifat psiko-gnostik. Pada umumnya isi maqamat itu dinyatakan dalam terminologi yang sepenuhnya dipinjam dari Alquran, seperti tobat, sabar, syukur, dan sebagainya.














PEMBAHASAN

A. Pengertian Maqamat

“Maqamat dan Ahwal” adalah dua kata kunci yang menjadi icon untuk dapat mengakses lebih khusus ke dalam inti dari sufisme, yang pertama berupa tahapan-tahapan yang mesti dilalui oleh calon sufi untuk mencapai tujuan tertinggi, berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan, dan yang kedua merupakan pengalaman mental sufi ketika menjelajah maqamat. Dua kata ‘maqamat dan ahwal’ dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang selalu berpasangan. Namun urutannya tidak selalu sama antara sufi satu dengan yang lainnya. Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara terminologi berarti tingkatan, posisi, stasiun, lokasi. Secara terminologi Maqamat bermakna kedudukan spiritual atau Maqamat adalah stasiun-stasiun yang harus dilewati oleh para pejalan spiritual (salik) sebelum bisa mencapai ujung perjalanan. Istilah Maqamat sebenarnya dipahami berbeda oeh para sufi. Secara terminologis kata maqam dapat ditelusuri pengertiannya dari pendapat para sufi, yang masing-masing pendapatnya berbeda satu sama lain secara bahasa. Namun, secara substansi memiliki pemahaman yang hampir sama.
Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Adapun pengertian maqam dalam pandangan al-Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.

B. Maqamat
Sebagaimana telah disebutkan diatas tingkatan-tingkatan (Maqamat) yang harus dilalui oleh seorang salik menurut masing-masing ahli sufi terdiri dari beberapa tahapan. Masing-masing ketujuh maqam ini mengarah ke peningkatan secara tertib dari satu maqam ke maqam berikutnya. Dan pada puncaknya akan tercapailah pembebasan hati dari segala ikatan dunia.Adapun  maqamat yang dimaksud diantaranya sebagai  berikut:
  1. Taubat
Dalam beberapa literatur ahli sufi ditemukan bahwa maqam pertama yang harus ditempuh oleh salik adalah taubat dan mayoritas ahli sufi sepakat dengan hal ini. Beberapa diantara mereka memandang bahwa taubat merupakan awal semua maqamat yang kedudukannya laksana pondasi sebuah bangunan. Tanpa pondasi bangunan tidak dapat berdiri dan tanpa taubat seseorang tidak akan dapat menyucikan jiwanya dan tidak akan dapat dekat dengan Allah. Dalam ajaran tasawuf  konsep taubat dikembangkan dan memiliki berbagai macam pengertian. Secara literal taubat berarti “kembali”. Dalam perspektif tasawuf , taubat berarti kembali dari perbuatan-perbuatan yang menyimpang, berjanji untuk tidak mengulanginya lagi dan kembali kepada Allah. Menurut para sufi dosa merupakan pemisah antara seorang hamba dan Allah karena dosa adalah sesuatu yang kotor, sedangkan Allah Maha Suci dan menyukai orang suci. Karena itu, jika seseorang ingin berada sedekat mungkin dengan Allah ia hrus membersihkan diri dari segala macam dosa dengan jalan tobat. Tobat ini merupakan tobat yang sebenarnya, yang tidak melakukan dosa lagi. Bahkan labih jauh lagi kaum sufi memahami tobat dengan lupa pada segala hal kecuali Allah. Tobat tidak dapat dilakukan hanya sekali, tetapi harus berkali-kali Dalam hal ini Dzu al-Nun al-Mishry membagi taubat pada dua bagian yaitu taubatnya orang awam dan orang khawas. Ia mengatakan:
توبة العوام من الذنوب وتوبة الخواص من الغفلة
Lebih lanjut al-Daqqaq membagi taubat dalam tiga tahap. Tahap pertama yaitu taubat kemudian inabah (kembali) dan tahap terakhir yaitu awbah. Menurut al-Sarraj tobat terbagi pada beberapa bagian. Pertama, taubatnya orang-orang yang berkehendak (Muridin), muta’arridhin, thalibin dan qashidin.Kedua, taubatnya ahli haqiqat (kaum khawwas). Pada bagian ini para ahli haqiqat tidak ingat lagi akan dosa-dosa mereka karena keagungan Allah telah memenuhi hati mereka dan mereka senantiasa berzikir kepadaNya. Ketiga, taubat ahli ma’rifat (khusus al-khusus). Adapun taubatnya ahli ma’rifat yaitu berpaling dari segala sesuatu selain Allah.
    
 2.    wara’
kata wara’ secara etimologi mengarah pada kata الكفِّ والانقباض  yang berarti menghindari atau menjauhkan diri. Dalam perspektif tasawuf wara’ bermakna menahan diri hal-hal yang sia-sia, yang haram dan hal-hal yang meragukan (syubhat). Hal ini sejalan dengan hadits nabi:
حدثنا أحمد بن نصر النيسابوري وغير واحد قالوا حدثنا أبو مسهر عن إسمعيل بن عبد الله بن سماعة عن الأوزاعي عن قرة عن الزهري عن أبي سلمة عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من حسن إسلام المرء تركه ما لا يعنيه
“Diantara (tanda) kebaikan ke-Islaman seseorang ialah meninggalkan sesuatu yang tidak penting baginya”.
Adapun makna wara’ secara rinci adalah meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat berupa ucapan, penglihatan, pendengaran, perbuatan, ide atau aktivitas lain yang dilakukan seorang muslim. Seorang salik hendaknya tidak hidup secara sembarangan, ia harus menjaga tingkah lakunya, berhati-hati jika berbicara dan memilih makanan dan minuman yang dikonsumsinya.

3. Zuhud
Kata zuhud banyak dijelaskan maknanya dalam berbagai literatur ilmu tasawuf. Karena zuhud merupakan salah satu persyaratan yang dimiliki oleh seorang sufi untuk mencapai langkah tertinggi dalam spiritualnya. Diantara makna kata zuhud adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh imam al-Gazali “mengurangi keinginan kepada dunia dan menjauh darinya dengan penuh kesadaran”, adapula yang mendefenisikannya dengan makna “berpalingnya hati dari kesenangan dunia dan tidak menginginkannya” “kedudukan mulia yang merupakan dasar bagi keadaan yang diridhai”, serta “martabat tinggi yang merupakan langkah pertama bagi salik yang berkonsentrasi, ridha, dan tawakal kepada Allah SWT”. Menurut Haidar Bagir konsep zuhud diidentikkan dengan asketismeyang dapat melahirkan konsep lain yaitu faqr. Menurut Abu Bakr Muhammad al- Warraq (w. 290/903 M ) kata zuhud mengandung tiga hal yang mesti ditinggalkan yaitu huruf  z berarti zinah (perhiasan atau kehormatan), huruf h berarti hawa (keinginan), dan d menunjuk kepada dunia (materi). Dalam perspektif tasawuf, zuhud diartikan dengan kebencian hati terhadap hal ihwal keduniaan padahal terdapat kesempatan untuk meraihnya hanya karena semata-mata taat  dan mengharapkan ridha Allah SWT.
Menurut Syaikh Syihabuddin ada tiga jenis kezuhudan yaitu : pertama, Kezuhudan orang-orang awam dalam peringkat pertama. Kedua, kezuhudan orang-orang khusus (kezuhudan dalam kezuhudan). Hal ini berarti berubahnya kegembiraan yang merupakan hasil daripada zuhud hanyalah kegembiraan akhirat, sehingga nafsunya benar-benar hanya dipenuhi dengan akhirat. Ketiga, Kezuhudan orang-orang khusus dikalangan kaum khusus. Dalam peringkat ketiga ini adalah kezuhudan bersama Allah. Hal ini hanyalah dikhususkan bagi para Nabi dan manusia suci. Mereka telah merasa fana’ sehingga kehendaknya adalah kehendak Allah. Sedangkan menurut al-Sarraj ada tiga kelompok zuhud :
  1. Kelompok pemula (mubtadiin), mereka adalah orang-orang yang kosong tangannya dari harta milik, dan juga kosong kalbunya.
  2. Kelompok para ahli hakikat tentang zuhud (mutahaqqiqun fi al-zuhd). Kelompok ini dinyatakan sebagai orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jiwa dari apa-apa yang ada di dunia ini, baik itu berupa pujian dan penghormatan dari manusia.
  3. Kelompok yang mengetahui dan meyakini bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah halal bagi mereka, namun yakin bahwa harta milik tidak membuat mereka jauh dari Allah dan tidak mengurangi sedikitpun kedudukan mereka, semuanya semata-mata karena Allah.
 4.  Faqr
Faqr bermakna senantiasa merasa butuh kepada Allah. Sikap faqr sangat erat hubungannya dengan sikap zuhud. Jika zuhud bermakna meninggalkan atau menjauhi keinginan terhadap hal-hal yang bersifat materi (keduniaan) yang sangat diinginkan maka faqr berarti mengosongkan hati dari ikatan dan keinginan terhadap apa saja selain Allah, kebutuhannya yang hakiki hanya kepada Allah semata.
Orang yang faqr bukan berarti tidak memiliki apa-apa, namun orang faqir adalah orang yang kaya akan dengan Allah semata, orang yang hanya memperkaya rohaninya dengan Allah. Orang yang bersikap faqr berarti telah membebaskan rohaninya dari ketergantungan kepada makhluk untuk memenuhi hajat hidupnya.  Ali Uthman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub,  mengutip seorang sufi yang mengatakan “Faqir bukan orang yang tak punya rezeki/penghasilan, melainkan yang pembawaan dirinya hampa dari nafsu rendah”. Dia juga mengutip perkataan Syekh Ruwaym bahwa “Ciri faqir ialah hatinya terlindung dari kepentingan diri, dan jiwanya terjaga dari kecemaran serta tetap melaksanakan kewajiban agama.”

5.   Sabr
Sabar secara etimologi berarti tabah hati. Dalam Mu’jam Maqayis al-Lughah disebutkan bahwa kata sabar memiliki tiga arti yaitu menahan, sesuatu yang paling tinggi dan jenis bebatuan. Sabar menurut terminologi adalah menahan jiwa dari segala apa tidak disukai baik itu berupa kesenangan dan larangan untuk mendapatkan ridha Allah. Dalam perspektif tasawuf sabar berarti menjaga menjaga adab pada musibah yang menimpanya, selalu tabah dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya serta tabah menghadapi segala peristiwa. Sabar merupakan kunci sukses orang beriman. Sabar itu seperdua dari iman karena iman terdiri dari dua bagian. Setengahnya adalah sabar dan setengahnya lagi syukur baik itu ketika bahagia maupun dalam keadaan susah. Makna sabar menurut ahli sufi pada dasarnya sama yaitu sikap menahan diri terhadap apa yang menimpanya.
Menurut al-Sarraj sabar terbagi atas tiga macam yaitu: orang yang berjuang untuk sabar, orang yang sabar dan orang yang sangat sabar.

6.  Tawakkal
Tawakkal bermakna ‘berserah diri’. Tawakkal dalam tasawuf dijadikan washilah untuk memalingkan dan menyucikan hati manusia agar tidak terikat dan tidak ingin dan memikirkan keduniaan serta apa saja selain Allah. Pada dasarnya makna atau konsep tawakkal dalam dunia tasawuf  berbeda dengan konsep agama. Tawakkal menurut para sufi bersifat fatalis, menggantungkan segala sesuatu pada takdir dan kehendak Allah. Syekh Abdul Qadir Jailany menyebut dalam kitabnya bahwa semua yang menjadi ketentuan Tuhan sempurna adanya, sungguh tidak berakhlak seorang salik jika ia meminta lebih dari yang telah ditentukan Tuhan.

7. Ridha
Pada dasarnya beberapa ulama mengemukakan konsep ridha secara berbeda. Seperti halnya ulama Irak dan Khurasan yang berbeda mengenai konsep ini, apakah ia termasuk bagian dari maqam atau hal. Maqam ridha adalah ajaran untuk menanggapi dan mengubah segala bentuk penderitaan, kesengsaraan menjadi kegembiraan dan kenikmatan. Dalam kitab al-Risalah al-Qusyairiyah disebutkan beberapa pendapat ulama mengenai makna ridha, diantaranya pendapat Ruwaim yang mengatakan bahwa: الرضا: أن لو جعل الله جهنم على يمينه ما سأل أن يحولها إلى يساره. , sedang Abu Bakar Ibn Thahir berkata: الرضا: إخراج الراهية من القلب، حتى لا يكون فيه إلا فرح وسرور. . Menurut Imam al-Gazali ridha merupakan buah dari mahabbah. Dalam perspektif tasawuf ridha berarti sebuah sikap menerima dengan lapang dada dan senang terhadap apapun keputusan Allah kepada seorang hamba, meskipun hal tersebut menyenangkan atau tidak. Sikap ridha merupakan buah dari kesungguhan seseorang dalam menahan hawa nafsunya. Ridha menurut al-Sarraj merupakan sesuatu yang agung dan istimewa, maksudnya bahwa siapa yang mendapat kehormatan dengan ridha berarti ia telah disambut dengan sambutan paling sempurna dan dihormati dengan penghormatan tertinggi. Dalam kitabnya al-Luma’ al-sarraj lebih lanjut mengemukakan bahwa maqam ridha adalah maqam terakhir dari seluruh rangkaian maqamat. Imam al-Gazali mengatakan bahwa hakikat ridha adalah tatkala hati senantiasa dalam keadaan sibuk mengingatnya. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa seluruh aktivitas kehidupan manusia hendaknya selalu berada dalam kerangka mencari keridhaan Allah.

C. Ahwal
Ahwal adalah bentuk jamak dari ‘hal’ yang biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya. Ibn Arabi menyebut hal sebagai setiap sifat yang dimiliki seorang salik pada suatu waktu dan tidak pada waktu yang lain, seperti kemabukan dan fana’. Eksistensinya bergantung pada sebuah kondisi. Ia akan sirna manakala kondisi tersebut tidak lagi ada. Hal tidak dapat dilihat dilihat tetapi dapat dipahami dan dirasakan oleh orang yang mengalaminya dan karenanya sulit dilukiskan dengan ungkapan kata.
Telah disebutkan diatas bahwa penjelasan mengenai perbedaan maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut: Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan. Didalam kenyataannya para Salik memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan (kasb). Tidak ada maqam yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.
Beberapa ulama mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam  dan tidak mengikat (dinamis). Al-Gazali dalam memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan tetap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu dan itulah hal. Mengenai hal ini ia juga memberi contoh tentang warna kuning yang dapat dibagi menjadi dua bagian, ada warna kuning yang tetap seperti warna kuning pada emas dan warna kuning yang dapat berubah seperti pada sakit kuning. Seperti itulah kondisi atau hal seseorang. Kondisi atau sifat yang tetap dinamakan maqam sedangkan yang sifatnya berubah dinamakan hal. Menurut Syihabuddin Suhrawardi seseorang tidak mungkin naik ke maqam yang lebih tinggi sebelum memperbaiki maqam sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik, dari maqam yang lebih tinggi turunlah hal yang dengan itu maqamnya menjadi kenyataan. Oleh karena itu, kenaikan seorang salik dari satu maqam ke maqam berikutnya disebabkan oleh kekuasaan Allah dan anugerahNya, bukan disebabkan oleh usahanya sendiri. pernyataan diatas memberikan pemahaman bahwa maqam bersifat lebih permanent keberadaannya pada diri sang salik daripada hal. Selain itu, maqamat lebih merupakan hasil upaya aktif para salik, sedangkan ahwal merupakan anugerah atau uluran Allah yang sifatnya pasif.
Sebagaimana halnya dengan maqam, hal juga terdiri dari beberapa macam. Namun, konsep pembagian atau formulasi serta jumlah hal berbeda-beda dikalangan ahli sufi. Diantara macam-macam hal yaitu; muraqabah, khauf, raja’, syauq, Mahabbah, tuma’ninah, musyahadah, yaqin.
  • Muraqabah
Secara etimologi muraqabah berarti menjaga atau mengamati tujuan. Adapun secara terminologi muraqabah adalah salah satu sikap mental yang mengandung pengertian adanya kesadaran diri bahwa ia selalu berhadapan dengan Allah dan merasa diri diawasi oleh penciptanya. Pengertian tersebut sejalan dengan pendangan al-Qusyairi bahwa muraqabah adalah keadaan mawas diri kepada Allah dan mawas diri juga berarti adanya kesadaran sang hamba bahwa Allah senantiasa melihat dirinya.
  • Khauf
Menurut al-Qusyairi, takut kepada Allah berarti takut terhadap hukumnya. Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya. Ibn Qayyim memandang khauf sebagai perasaan bersalah dalam setiap tarikan nafas. Perasaan  bersalah dan adanya ketakutan dalam hati inilah yang menyebabkan orang lari menuju Allah.
  • Raja’
Raja’ bermakna harapan. Al-Gazali memandang raja’ sebagai senangnya hati karena menunggu sang kekasih datang kepadanya. Sedangkan menurut al-Qusyairi raja’ adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa akan datang. Sementara itu, Abu Bakar al-Warraq menerangkan bahwa raja’ adalah kesenangan dari Allah bagi hati orang-orang yang takut, jika tidak karena itu akan binasalah diri mereka dan hilanglah akal mereka. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan ahli sufi diatas dapat dipahami bahwa raja’ adalah sikap optimis dalam memperoleh karunia dan nikmat Allah SWT yang disediakan bagi hambaNya yang saleh dan dalam dirinya timbul rasa optimis yang besar untuk melakukan berbagai amal terpuji dan menjauhi perbuatan yang buruk dan keji.
  • Syauq
Syauq bermakna lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Para ahli sufi menyatakan bahwa syauq merupakan bagian dari mahabbah. Sehingga pengertian syauq dalam tasawuf  adalah suasana kejiwaan yang menyertai mahabbah. Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan  terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.


  • Mahabbah
Cinta (mahabbah) adalah pijakan atau dasar bagi kemuliaan hal. Seperti halnya taubat yang menjadi dasar bagi kemuliaan maqam. Al-Junaid menyebut mahabbah sebagai suatu kecenderungan hati. Artinya, hati seseorang cenderung kepada Allah dan kepada segala sesuatu yang datang dariNya tanpa usaha. Adapun dasar paham  mahabbah antara lain dalam firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.”
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Adapun tanda-tanda mahabbah menurut Suhrawardi yaitu; 1) di dalam hati sang pencinta tidak ada kecintaan pada dunia dan akhirat nanti. 2) ia tidak boleh cenderung pada keindahan atau kecantikan lain yang mungkin terlihat olehnya atau mengalihkan pandangannya dari keindahan Allah. 3) ia mesti lebih mencintai sarana untuk bersatu dengan kekasih dan tunduk. 4) karena dipenuhi dan dibakar cinta, ia mestilah menyebut-nyebut nama Allah tanpa lelah. 5) Ia harus mengabdi kepada Allah dan tidak menentang perintahNya. 6) apapun pilhannya pandangannya selalu mengharapkan keridhaan Allah. 7) menyaksikan Allah dan bersatu denganNya tidak harus mengurangi kadar cinta dalam dirinya. Dalam dirinya harus bangkit sifat syauq, dan ketakjuban.
Tokoh utama paham mahabbah adalah Rabi’ah al-Adawiyah (95 H-185 H). Menurutnya, cinta kepada Allah merupakan cetusan dari perasaan cinta dan rindu yang mendalam kepada Allah. Konsep mahabbahnya banyak tertuang dalam syair-syairnya.
  • Tuma’ninah
Secara bahasa tuma’ninah berarti tenang dan tentram. Tidak ada rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Menurut al-Sarraj tuma’ninah sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya dan bersih ingatannya. Seseorang yang telah mendapatkan hal ini sudah dapat berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.
  • Musyahadah
Dalam perspektif tasawuf  musyahadah berarti melihat Tuhan dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat dengan mata kepala. Hal ini berarti dalam dunia tasawuf seorang sufi dalam keadaan tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Musyahadah dapat dikatakan merupakan tujuan akhir dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan hamba dengan Allah. Dalam pandangan al-Makki,  musyahadah juga berarti bertambahnya keyakinan yang kemudian bersinar terang karena mampu menyingkap yang hadir (di dalam hati). Seorang sufi yang telah berada dalam hal musyahadah merasa seolah-olah tidak ada lagi tabir yang mengantarainya dengan Tuhannya sehingga tersingkaplah segala rahasia yang ada pada Allah.
  • Yaqin
Al-yaqin berarti perpaduan antara pengetahuan yang luas serta mendalam dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pula sehingga tertanamlah dalam jiwanya perjumpaan secara langsung dengan Tuhannya. Dalam pandangan al-Junaid yaqin adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah dan tidak berubah. Menurut al-Sarraj yaqin adalah fondasi dan sekaligus bagian akhir dari seluruh ahwal. Dapat juga dikatakan bahwa yaqin merupakan esensi seluruh ahwal .



                                                                        PENUTUP
Kesimpulan
Setelah membahas dan memahami uraian di atas, dapat dibuat beberapa point dalam sebuah kesimpulan sebagai berikut:
  1. Maqam adalah tingkatan yang harus ditempuh oleh para pejalan spiritual untuk sampai pada titik akhir tujuan.
  2. Pada dasarnya konsep mengenai tingkatan atau macam-macam maqam menurut ahli sufi berbeda antara satu dengan yang lainnya, diantara mereka ada yang menyebutkan bahwa tingkatan tersebut terdiri dari  taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha. Adapula yang membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha dan sebagainya.
  3. Maqam sifatnya lebih dinamis dan aktif karena merupakan usaha dari para salik sendiri.
  4. Ahwal adalah keadaan yang dialami oleh para salik di tengah-tengah perjalanan spiritualnya. Hal sifatnya  lebih statis, karena ia merupakan anugerah Allah yang timbulnya secara spontan pada diri sang salik tanpa ada usaha terlebih dahulu.
  5. Sebagaimana maqam, hal juga terdiri dari beberapa macam. Diantaranya adalah muraqabah, khauf, raja’, syauq, Mahabbah, tuma’ninah, uns, musyahadah, yaqin.








EKONOMI MAKRO ISLAM
PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL
O
L
E
H
KELOMPOK 1:
1.      AINUN MAHDINI
2.      ELSA RINAMSI
3.      IQMAL MUHADI
4.      MUKSIN ALI ALATAS
5.      SAINAL SAYUTI

SEMESTER III
DIII PERBANKAN SYARIAH
images.jpg
 











FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
MEDAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar, sehingga kami dapat menyelesaikan “EKONOMI MAKRO” yang berjudul “PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL ini tepat pada waktu yang telah ditentukan.
Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada Rasulullah SAW yang mana telah membawa kita semua dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang seperti yang telah kita rasakan saat ini, sehingga kita dapat merasakan manfaat ilmu yang berkembang sangat pesat menurut perkembangan zaman.
Kami mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Dan kami pun menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan.
Oleh karena itu, kepada para pembaca kami mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan makalah yang kami buat selanjutnya. Semoga makalah ini benar-benar bermanfaat bagi para pembaca dan khususnya  pada kami. Aamiin



Medan, 5 oktober 2016


penyusun







DAFTAR ISI
Kata pengantar……………………………………………………………………..………..2
Daftar isi……………………………………………………………………………………..3
BAB I
Pendahuluan..........................................................................................................................4
BAB II
Pembahasan…………………………………………………………...……………………5
Perhitungan pendapatan nasional………………………………………..………….……….5
1.metode perhitungan pendapatan nasional…………………………………………5
            a. metode produksi………………………………………………………………….5
§  menghitung nilai tambah…………………………………...………..5
§  menurut laporan usaha………………………………………………6
2. metode pendapatan…………………………………………………………….…8
§  Pendapatan factor produksi…………………………………………8
§  Pendapatan pribadi dan pendapatan disposebel………………….…9
3. metode pengeluaran……………………………………………………………..10
§  Rumah tangga……………………………………………...……….10
§  Pengeluaran pemerintah……………………………………………11
§  Pembentukan modal sector swasta…………………………..……..11
§  Ekspor netto………………………………………………………..12
4. komponen pendapatan nasional…………………………………………………13
§  Gross national produc……………………..……………………….13
§  Gross dosmetik produc…………………………………………….13
§  National income…………………………..………………………..13
§  Pendapatan pribadi…………………………………………………14
§  Pendapatan disposable……………………………………………..14
§  Pendapatan nasional harga berlaku dan harga konsumsi…..………14
BAB III PENUTUP
KESIMPULAN...................................................................................................................17
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………….……………18
BAB I
PENDAHULUAN
Setiap Negara akan mengumpulkan beberapa informasi mengenai kegiatan ekonomi agar secara kontinu dapat di perhatikan perubahan-perubahan tingkat dan corak kegiatan ekonomi yang berlaku.
Slah satu informasi penting yang akan di kumpulkan adalah data mengenai pendapatan nasionalnya, yaitu nilai barang dan jasa yang di wujudkan pada suatu tahun tertentu. Untuk menghitung nilai barang-barang dan jasa-jasa yang di ciptakan oleh sesuatu perekonomian tiga cara perhitungan yang di gunakan yaitu:
1.      Cara pengeluaran. Dengan cara ini pendapatan nasional di hitung dengan menjumlahkan nilai pengeluaran/perbelanjaan ke atas barang-barang dan jasa yang di produksikan di dalam Negara tersebut.
2.      Cara produksi dan cara produk neto dengan cara ini pendapatan nasional  di hitung dengan menjumlahkan nilai produksi barang dan jasa yang di wujudkan oleh berbagai sector (lapangan usaha) dalam perekonomian.
3.      Cara pendapatan dalam penghitungan ini pendapatan nasional di peroleh dengan cara menjumlahkan pendapatan yang di terima oleh factor-faktor produksi yang di gunakan untuk mewujudkan pendapatan nasional.
Menerangkan ketiga-ketiga cara perhitungan pendapatan nasional adalah tujuan terpenting dari urain dalam bab ini. Terlebih dahulu akan di terangkan beberapa konsep yang erat hubungannya dengan pendapatan nasional suatu Negara. Sesudah itu akan di terangkan prinsip-prinsip nasional menurut ketiga cara yang di terangkandi atas.








BAB II
PEMBAHASAN
PERHITUNGAN PENDAPATAN NASIONAL
A.    MENGHITUNG NILAI TAMBAH
Dalam menghitung  nilai tambah di perhatikan transaksi dan kegiatan memproduksi yang akan di lalui dalam mewujudkan perabot rumah tangga , seperti kursi, tempat tidur, dan lemari. Kegiatan-kegiatan yang perlu di lakukan untuk membuat perabot itu adalah: menebang kayu di hutan,menggergaji kayu hutan untuk di jadikan papan, membuat perabot di pabrik perabot, dan menjual perabot itu di toko perabot.
Seterusnya misalkan kegiatan-kegiatan tersebut di lakukan oleh 4 perusahaan yang berbeda. Perusahaan yang menebang kayu menjual kayu hutan kepada penggerajin papan seharga 50 ribu. Papan yang di gergaji di jual kepada pembuat perabot dengan harga  Rp 200 ribu. Pengusaha perabot, setelah membuat berbagai jenis perabot dan menjualnya, memperoleh hasil penjualan sebanyak Rp 600 ribu. Secara keseluruhan toko perabot menerima Rp 800 ribu dari penjualan perabot kepada konsumen.
Misalkan pengambilan kayu hutan tidak membayar sesuatu pun untuk menebang kayu di hutan. Dengan demikian nilai tambah yang di ciptakan penebang kayu hutan adalah Rp 50 ribu secara keseluruhannya nilai tambah yang di ciptakan oleh keempat kegiatan ekonomi  tersebut adalah sebagai berikut (nilai dalam ribu rupiah):

Contoh menghitung nilai tambah
Jenis kegiatan                          nilai penjualan                            nilai tambah
                                                                        (ribu rupiah)
1.  Mengambil kayu hutan                              50                                            50
2.  Menggergaji papan                                     200                                          150
3.  Membuat perabot                                       600                                          400
4.  Menjual perabot di toko                             800                                          200

Jumlah nilai penjualan dan nilai tambah                       1.650                                       800


i.                    Penebang kayu:                                                                             Rp 50    ribu
ii.                  Pengerajin papan:                          Rp 200 - Rp 50           =         Rp 150  ribu
iii.                Pembuat perabot:                          Rp 600 - Rp 200         =         Rp  400 ribu
iv.                Toko perabot:                                Rp 800 – Rp 600         =         Rp  200 ribu

Dengan demikian jumlah nilai tambah yang di wujudkan oleh keempat kegiatan itu adalah:
(50 + 150 + 400 + 200) =  Rp 800 ribu.[1]
Pengeluaran konsumen untuk membeli perabot ini adalah Rp 800 ribu juga. Ini berarti  dalam perhitungan menurut cara produk neto, nilai pendapatan nasional yang di sumbangkan berbagai kegiatan di atas adalah sama dengan dalam penghitungan menurut cara pengeluaran.
Contoh ini jelas menunjukkan bahwa terdapat dua alternatif dalam menghitung pendapat nasional, yaitu cara pengeluaran dan cara produk neto. Dalam cara pengeluaran yang di perhitungan adalah nilai barang jadi (perabot) yang di jual toko perabot, sedangkan dalam cara produk neto yang di perhatikan adalah tambahan nilai yang di wujudkan oleh empat kegiatan ekonomi di atas.



B.     MENURUT LAPANGAN USAHA
Dalam table di bawah di tunjukkan bagaimana pendapatan nasional menurut cara produk neto di hitung. Data yang di temukan adalah untuk tahun 2002. Data yang di kumpulkan di golongkan kepada berbagai sector di mana nilai tambah di wujudkan. Oleh sebab itu data yang di kemukakan produk domestic  bruto (PDB) menurut lapangan usaha.
Table di bawah menunjukkan berbagai kegiatan ekonomi di Indonesia dan sumbangannhya dalam mewujudkan pendapatan nasional. Nilai produk suatu sector menggambarkan nilai tambah yang di wujudkan oleh sector tersebut. Sebagai contoh, misalkan produksi sector pertanian adalah Rp 300 triliun dalam sector tersebut membeli bahan mentah dari sector lain dengan nilai Rp 100 triliun. Berdasarkan contoh ini dapatlah di simpulkan bahwa sector pertanian menghasilkan nilai tambah sebanyak Rp 200 triliun.
Penghitungan seperti yang di tunjukkan dalam tabel di bawah menunjukkan sector-sektor ekonomi dalam perekonomian Indonesia di bedakan dalam 9 sektor. Dua sector yang pertama di namakan juga sebagai sector primer. Tiga sector berikutnya, yaitu (i) industri pengolahan,

Produk domestik bruto menurut lapangan usaha, 2002 (triliun rupiah)

Lapangan usaha                      menurut harga berlaku                        harga tetap tahun 1993
                                                Nilai                     %                            nilai                        %

1.pertanian, peternakan,                    281,3                          17,6                                    68,0                            15,9
   kehutanan, perikanan
2.pertambangan dan                          191,8                        11,9                                      39,8                              9,3
  penggalian
3.industri pengolahan                         402,6                          25,0                                    113,7                          26,7
4.listrik, gas dan air                                29,1                            1,8                                   7,5                                1,8
5.bangunan                                             92,1                            5,7                                   25,3                              5,9
6.perdagangan, hotel                           258,9                          16,5                                   69,3                            16,2
  dan restoran
7.pengakuan dan komunikasi             97,3                             6,0                                  33,6                              7,9
8.keuangan, sewa dan jasa                               105,6                             6,5                                  29,9                              7,0
   perusahaan
9.jasa-jasa lain (termasuk                 151,0                             9,4                                  39,6                              9,3
   Pemerintahan

PRODUK DOMESTIK BRUTO        1.610,0                         100,0                                  426,7                          100,0



(ii) listrik, gas dan air, dan (iii) bangunan di golongkan kepada sector sekunder, dan sector hingga ke-9 di golongkan sebagai sector jasa atau sector tersier. Data PDB menurut harga yang berlaku untuk tahun 2002 memberikan informasi yang berikut:
(i).        lapangan usaha terpenting dalam ekonomi Indonesia adalah kegiatan indistri pengolahan , yang  menghasilkan nilai tambah sebesar Rp 402,6 triliun dan meliputi 25 persen dari PDB.
(ii).       Sector primer—yang meliputi pertanian,  peternakan, kehutanan, perikanan dan pertambangan adalah lebih penting dari sector sekunder dan sector jasa-jasa sector primer menghasilkan  Rp 473,1 triliun (di hitung dari menambahkan nilai tambah yang di wujudkan sector pertanian dan pertambangan) dan meliputi 39,5 persen dari PDB
(iii).      Kegiatan perdagangan , hotel restoran member sumbangan kepada PDB hampir sama pentingannya dalam sector pertaniaan.


METODE PENDAPATAN
1.      Pendapatan faktor produksi
Dalam perhitungan pendapatan factor produksi  nasional yang sebenarnya, pengolongan pendapat factor-faktor produksi tidak selalu mengikuti penggolongan pendapatan factor-faktor produksi seperti yang di nyatakan di atas. Dengan perkataan lain, pendapatan nasional tidak di tentukan dengan menghitung dan menjumlahkan seluruh gaji dan upah, sewa, bunga, dan keuntungan yang di terima oleh seluruh factor-faktor produksi dalam suatu tahun tertentu. Sebabnya  adalah karena dalam perekonomian terdapat banyak kegiatan dimana pendapatan merupakan gabungan dari gaji dan upah atau sewa, bunga, dan keuntungan.[2]
Contoh dari bentuk pendapatan yang demikian adalah pendapatan yang di peroleh perusahaan-perusahaan perseorangan. Untuk suatu perusahaan perseorangan (misalnya restoran yang di kelola anggota keluarga), yang dimaksudkan “keuntungan usahanya” adalah gabungan dari gaji, upah, bunga, sewa dan keuntungan sebenarnya dari usaha yang di lakukan oleh keluarga tersebut. Oleh karenanya, penghitungan pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada umumnya menggolongkan pendapatan yang di terima factor-faktor produksi secara berikut:
i.                    Pendapatan para pekerja,yaitu gaji dan upah
ii.                  Pendapatan dari usaha perseorangan ( perusahaan perseorangan)
iii.                Pendapan dari sewa
iv.                Bunga neto- yaitu seluruh nilai pembayaran bunga yang di lakukan di kurangi bunga ke atas pinjaman konsumsi dan bunga ke atas pinjaman pemerintah
v.                  Keuntungan perusahaan


2.      Pendapatan pribadi dan pendapatan disposebel
a.       Pendapan pribadi
Pendapatan factor pribadi dapat diartikan sebagai semua jenis pendapatan,termasuk pendapatan yang di peroleh tanpa memberikan seuatu kegiatan apapun, yang di terima oleh penduduk sesuatu Negara. Dari arti istilah pendapatan pribadi ini dapatlah di simpulkan bahwa dalam pendapatan pribadi telah termasuk juga pembayaran pindahan. Pembayaran tersebut merupakan pemberian-pemberian  yang di lakukan oleh pemerintah kepada berbagai golongan masyarakat dimana para penerimanya tidak perlu memberikan suatu balas jasa atau usaha apa pun sebagai imbalannya.[3]

b.      Pendapatan disposebel
Apabila pendapatan pribadi di kurangi oleh pajak yang harus di bayar oleh para penerima pendapatan, nilai yang tersisa di namakan pendapatan disposebel. Dengan demikian pada hakikatnya pendapatan disposebel adalah pendapatan yang dapat di gunakan  oleh para penerimanya, yaitu semua rumah tangga yang ada dalam perekonomian, untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang mereka ingini. Tetapi bisanya tidak semua  pendapatan disposebel itu digunakan untuk tujuan konsumsi, sebagian darinya di tabung dan sebagaian darinya  di gunakan untuk membayar bunga untuk pinjaman yang di gunakan untuk membeli barang-barang secara mencicil. Seprti telah di terangkan sebelum ini, pembayaran bunga oleh konsumen ke atas pinjaman untuk membeli barang-barang secara mencicil tidak termasuk ke dalam pendaptan nasional karena pinjaman yang di lakukan oleh konsumen itu bukanlah di gunakan untuk menciptakan pendapatan nasional.
Untuk memudahakan mengingat hubungan di antara (i) pendapatan disposebel (Yd) dan pendapatan pribadi (YP), dan (ii) pendapatan disposebel (Yd) dengan konsumsi dan tabungan, di bahwa ini dinyatakan formula (rumus) dari hubungan tersebut.
a.       Yd = yP – T
b.      Yd = C + S

C.     METODE PENGELUARAN
Di Negara-negara yang perekonomiannya sudah sangat maju seperti Negara belanda, inggris, jerman dan amerika serikat, perhitungan pendapatan nasional dengan cara pengeluaran/ perbelanjaan adalah cara yang paling penting. Hal ini di sebabkan kerena cara tersebut dapat memberikan keterangan-keterangan yang sangat berguna mengenai tingkat kegiatan ekonomi yang capai.
Data pendapatan nasional yang di hitung dengan cara pengeluaran akan dapat memberi gambaran tentang
a.        sampai dimana buruknya masalah ekonomi yang di hadapi atau sampai dimana baiknnya tingkat pertumbuhan yang di capai dan tingkat kemakmuran yang sedang di nikmati dan.
b.      Memberi informsi dan data yang di butuhkan dalam analisis makro ekonomi.
data pendapatan nasional dan komponen-komponen data yang di hitung dengan cara pengeluaran dapat digunakan sebagai landasan untuk mengambil langkah-langkah dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi yang di hadapi.

1.      Rumah tangga
Nilai perbelanjaan yang di lakuakan oleh rumah tangga untuk membeli berbagai jenis kebutuhan dalam satu tahun tertentu di namakan pengeluaran konsumsi rumah tangga atau dalam analisis makro ekonomi lebih lazim di sebut sebagai konsumsi rumah tangga.
Pendapatan yang di terima rumah tangga akan di gunakan untuk membeli makanan, membeli pakaian, membiayai  jasa pengangkutan, membayar pendidikan anak, membayar sewa rumah dan membeli kenderaan. Barang-barang tersebut di beli rumah tangga untuk memenuhi kebutuhannya dan perbelanjaan tersebut di namakan konsumsi, yaitu membeli barang dan jasa untuk memuaskan keinginan memiliki dan menggunakan barang tersebut.

2.      Pengeluaran pemerintah
Pemerintah membeli barang terutama untuk kepentingan masyarakat. Pengeluaran untuk menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan, pengeluaran untuk menyediakan polisi dan tentara, pembayaran gaji untuk pegawai pemerintah dan pembelanjaan untuk mengembangkan infrastruktur  di lakukan untuk kepentingan masyarakat.
Pembelian pemerintah ke atas barang dan jasa  dapat di golongkan kepada dua golongan.
1.      Konsumen pemerintah
Adalah pembelian ke atas barang dan jasa yang akan di konsumsikan, seperti membayar gaji guru sekolah, membeli alat-alat tulis dan kertas untuk di gunakan dan membeli bensin untuk kenderaan pemerintah.
2.      Investasi pemerintah
Meliputi pengeluaran untuk membangun prasarana seperti jalan, sekolah, rumah sakit dan irigasi. Memberi beasiswa  bantuan untuk korban banjir, subsidi-subsidi pemerintah tidak di golongkan  sebagai pengeluaran pemerintah ke atas produk  nasional kerena itu bukanlah untuk membeli barang dan jasa.

3.      Pembentukan modal tetap sector swasta
Pembentukan modal tetap sector swasta atau lebih sering dinyatakan sebagai investasi, pada hakikatnya berarti pengeluaran untuk membeli barang modal yang dapat menaikkan produksi barang dan jasa di masa yang akan datang. Membangun gedung perkantoran, mendirikan bangunan industry, membeli alat-alat memproduksi adalah beberapa bentuk pengeluaran yang tergolong sebagai investasi penegeluaran untuk investasi ini di lakukan bukan untuk di konsumsi, tetapi untuk digunakan dalam kegiatan memproduksi di waktu yang akan datang.
Dalam pengumpulan data mengenai investasi, penegluaran tersebut dibedakan kepada ketiga jenis perbelanjaan berikut:
a.       Pengeluaran ke atas barang modal dan peralatan produksi
b.      Perubahan-perubahan dalam nilai investor pada ahir tahun
c.       Pengeluatan-pengeluaran untuk mendirikan rumah tempat tinggal.

4.      Ekspor neto
Nilai ekspor yang di lakukan sesuatu Negara dalam suatu tahun tertentu di kurangi dengan nilai impor dalam periode yang sama di namakan ekspor neto. Ekspor sesuatu Negara, seluruh atau sebagian dari nilainya, merupakan barang dan jasa yang di hasilkan di dalam negeri . oleh sebab itu nilainya harus di hitung ke dalam pendapatan nasional. Barang impor merupakan produksi  dari Negara lain: oleh sebab itu sebenarnya tidak perlu di hitung ke dalam pendapatan nasional. Dalam praktek penghitungan pendapatan nasional tidak dapat di letakkan keadaan dimana nilai barang impor termasuk dalam perhitungan.
Contoh : ketika seorang konsumen membeli mobil yang di pasang di dalam negeri, dia akan membayar nilai barang impor-yaitu benda-benda yang di pasang dalam mobil tersebut yang berasal dari impor. Contoh ini menunjukkan bahwa banyak di antara barang jadi yang di beli di dalam negeri (dan di bayar pada harga pasar) meliputi juga nilai barang impor.


                                           KOMPONEN PENDAPATAN NASIONAL
1.      Gross national product (PNB)
Adalah konsep yang mempunyai arti yang bersama dengan GDP, tetapi memperkirakan jenis-jenis pendapatan yang sedikit berbeda. Dalam menghitung pendapatan nasional bruto, nilai barang dan jasa yang di hitung dalam pendapatan hanyalah barang dan jasa yang di produksikan oleh factor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga Negara dari Negara yang pendapatan nasionalnya di hitung. Oleh karena itu factor-faktor produksi yang di miliki warga Negara suatu Negara terdapatn di Negara itu sendiri maupun di luar negeri, maka nilai produksi yang di wujudkan oleh factor-faktor produksi yang di gunakan di luar negeri juga di hitung di dalam produk national bruto. Tetapi sebaliknya, dalam produk national bruto  tidak di hitung produksi yang di wujudkan oleh factor-faktor produksi yang di miliki penduduk atau perusahaan Negara lain yang di gunakan di Negara tersebut.

2.      Gross domstik product
Konsep yang paling penting kalau di bandingkan dengan konsep pendapatan nasional lainnya. Produk domestic bruto (PDB) dapatlah di artikan sebagai nilai-nilai barang-barang dan jasa-jasa yang di produksikan di dalam negeri tersebut dalam satu tahun tertentu.
Di dalam sesuatu perekonomian,di Negara-negar maju maupun di Negara-negara berkembang, barang dan jasa di produksikan bukan oleh perusahaan milik penduduk Negara tersebut tetapi oleh penduduk Negara lain. Selain di dapati produksi nasional di ciptakan oleh factor-faktor produksi yang berasal dari luar negeri.
Perusahaan multinasional beroprasi di berbagai Negara dan membantu menaikkan nilai barang dan jasa yang di hasilkan oleh Negara-negar tersebut.
Gross domestic product (GDP), adalah nilai barang dan jasa dalam suatu Negara yang di produksikan oleh factor-faktor produksi milik waraga Negara tersebut dan Negara asing.

3.      National income
Dalam analisis makro ekonomi selalu di gunakan istilah “PENDAPATAN NASIONAL” atau “NATIONAL INCOME”  dan biasanya istilah itu di maksudkan untuk menyatakan nilai barang dan jasa yang di hasilkan dalam suatu Negara. Dengan demikian dalam konsep tersebut istilah pendapatan nasional adalah mewakili arti produk domestic bruto atau produk nasional bruto. Di samping itu ada arti lain dari “pendapatan nasional” yaitu jumlah pendapatan yang di terima oleh factor-faktor produksi yang di gunakan untuk memproduksikan barang dan jasa dalam suatu tanhun tertentu. Dalam system perhitungan pendapatan nasional, jumlah penndapatan itu di namakan produk nasional netopada harga factor atau secara ringkas: pendapatan nasional.

4.      Pendapatan pribadi
Pendapatan pribadi dapat di artikan sebagai semua jenis pendapatan, termasuk pendapatan yang di peroleh tanpa member sesuatu kegiatan apa-apa, yang di terima oleh penduduk suatu Negara. Dalam pendapatan pribadi telah termasuk juga pembayaran pindahan. Pembayaran tersebut merupakan pemberian uang di lakukan oleh pemerintah kepada berbagi golongan masyarakat di mana para penerimanya tidak perlu memberikan suatu balas jasa usaha apapun sebagai imbalannya.

5.      Pendapatan disposebel
Apabila pendapatan pribadi di kurangi oleh pajak yang harus di bayar oleh para penerima pendapatan, nilai yang tersisa di namakan pendapatan disposebel. Dengan demikian pada hakikatnya pendapatan disposebel adalah pendapatan yang dapat di gunakan  oleh para penerimanya, yaitu semua rumah tangga yang ada dalam perekonomian, untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa yang mereka inginkan.

6.      Pendapatan nasional harga berlaku dan konsumsi
Pendapatan nasional harga berlaku adalah nilai barang-barng dan jasa-jasa yang di hasilkan suatu Negara dalam satu tahun dan di nilai menurut harga-harga yang berlaku pada tahun tersebut. Cara ini adalah cara yang selalu di lakukan dalam menghitung pendapatan nasionaldari suatu perioadeke periode lainnya. Dapatlah di ramalkan bahwa apabila di bandingkan data pendapatan nasional dalam berbagai tahu tersebut nilainnya akan berbeda-beda dan menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pertambahan nilai tersebut di sebabkan oleh dua factor:
1.      Pertambahan fisikal barang dan jasa yang di hasilkan dalam perekonomian dan
2.      Kenaikan harga-harga yang berlaku dari satu periode ke periode lainnya.

Pertumbuhan sesuatu perekonomian di ukur dari pertambahan yang sebenarnya dalam barang dan jasa yang di produksikan. Untuk dapat menghitung kanaikan itu dari tahun ke tahun, barang dan jasa yang di hasilkan haruslah di hitung pada harga yang tetap, yaitu barang yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seharusnya di gunakan untuk menilai barang dan jasa yang di hasilkan pada tahun-tahun yang lain. Nilai pendapatan nasional yang dapat dalam penghitungan secara ini di namakan pendapatan nasional pada harga tetap atau pendapatan nasional rill.

Pendapatan nasional harga pasar dan harga factor
Barang-barang dan jasa-jasa yang di hasilakn dalam perekonomian dapat di nilai dengan dua cara, dengan menggunakan harga pasar dan dengan menggunakan harga factor. Sesuatu barang di katakan di nilai menurut harga pasar apabila penghitungan nilai barang itu menggunakan harga yang di bayar oleh pembeli.
Misalkan pendapatan factor-faktor produksi untuk memproduksikan baju dan sepatu masing-masing adalah Rp 30.000 dan Rp 50.000. dalam penghitungan pendapatan nasional menurut harga factor,nilai yan di sumbangkan oleh baju adalah Rp 30.000 dan nilai yang di sumbangakan oleh sepatu adalah Rp 50.000. hubungan di antara harga pasar dan harga factor dapat di nyatakan secara persamaan di bawah ini.

Harag pasar=harga factor + pajak tak langsung-subsidi

Pendapatan nasional bruto dan neto
Dalam setiap harga pasar sesuatu barang termasuk nilai penyusun (depresiasi) industry-industri akan menggunakan barang-barang modal (mesin,peralatan produksi, bangunan dan perabotan kantor) untuk menghasilkan barang-barang mereka. Nilai barang-barang modal tersebut akan semakin susut dari satu period eke periode lain. Kesusutan nilai tersebut merupakan bagian dari biaya produksi, oleh sebab itu dalam setiap harga penjualan sesuatu barang termasuk nilai defresiasi barang modal. Dengan perkataan lain pendapatan nasional pada harga pasar termasuk nilai penyusutan barang modal yang di gunakan untuk menghasilkan pendapatan nasional. Pendapatan nasional yang masih meliputi depresiasi di namakan produk national bruto. Untuk memperoleh produk nasional neto,nilai depresiasi harus di kurangi dari produk nasional bruto. Dengan demikian produk nasional neto adalah produk nasional bruto kutang depresiasi.
           























BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Setiap Negara akan selalu menghitung pendapat nasionalnya yaitu nilai produksi dalam perekonomian, untuk mengetahui nilai ouput yang di ciptakan dalam Negara itu pada suatu tahun tertentu.pendapatan nasional merupakan suatu ukuran penting untuk menentukan sejauh mana tingkat kegiatan ekonomi yang di capai suatu Negara. Tiga cara yang di gunakan untuk menghiting pendapaytan nasional : cara pengeluaran, produk neto dan pengeluaran.
Dalam cara pengeluaran, pendapatan nasional di hitung dengan menjumlahkan nilai pengeluaran yang di lakukan empat golongan pengguna barang dan jasa: rumah tangga,pemerintah, perusahaan-perusahaan yang melakukan investasi dan penduduk negara lain yang membeli produksi dalam negeri.
Dalam cara pendapatan, pendapatan nasional di hitung dengan menjumlahkan pendapatan yang di terima factor-faktor produksi yang di gunakan untuk menghasilkan pendapatan nasional berbagai jenis pendapatan itu adalah gaji, upah, sewa, bunga dan keuntungan.
Dalam penghitungan pendapatan Negara di gunakan bebrapa konsep yang lebih spesifik/khusus artinya. Konsep-konsep pendapatan nasional yang lebih khusus artinya. PDB, PNB, dan PPN.
Dua konsep penting lain dalam penghitungan nasional adalah pendapatan individu dan pendapatan desposebel.









DAFTAR PUSTAKA

Sadono,sukirno,.makroekonomi, Pt rajagrafindo persada,Jakarta.2010
Mankiw. N.gregory, teori makro ekonomi, erlangga,Jakarta.2003
http://chanchangril.blogspot.co.id/2013/06/pendapatan-pribadi.html




[1] Sukirno,sadono,mekroekonomi,Jakarta:pt.rajagrafindo persada,2010
[2] N.gregory,mankiw,teori makro ekonomi, Jakarta:erlangga,2003
[3] Ibid,

https://drive.google.com/file/d/1n1Ac50gxTPV3LbOXH_BreFbz5JOxDI5L/view?usp=sharing